Minggu, 04 Agustus 2013

Man of Steel

man off steel review

Kekuatan besar, menuntut tanggung jawab yang besar pula. Nasehat itu dikatakan Jonathan Kent (Kevin Costner) kepada anaknya Clark Kent (Henry Cavill) dalam film Man of Steel besutan sutradara Zack Snyder dan dan produser Christopher Nolan.

Sebagai alien dari Planet Krypton, ia memiliki kekuatan super. Kuat bak baja dan secepat peluru. Kekuatan super yang dimiliki Clark mungkin impian setiap orang. Namun, setiap ia menunjukkan sedikit kekuatannya, Kent kecil dicap aneh oleh lingkungannya.

Kondisi ini membuat ia menjadi antisosial, teriolasi dari lingkungannya. "Tidak semua orang bisa menerima kekuatan sebesar itu," ujar Jonathan dalam satu dialog dengan Clark.

Ketika dewasa Clark berkelana, bersembunyi, berpindah-pindah tempat serta bergonta-ganti profesi. Kesendirian Superman ini belum pernah ditampilkan dalam film trilogi tokoh superhero kreasi Jerry Siegel dan Joe Shuster dalam komik Detective Comics.

Clark diungsikan ke bumi oleh kedua orang tuanya Jor-El (Russel Crowe) dan Martha Kent (Diane Lane) ketika Planet Krypton akan hancur. Selain untuk menyelamatkan ras Krypton, ayah kandungnya menginginkan Clark menyelamatkan dan membimbing manusia di bumi. Ia menyebut Clark sebagai dewa bagi manusia bumi.

Sebagai pahlawan super, Superman harus memiliki lawan sepadan. Tokoh antagonis di film berbiaya US$ 225 juta atau sekitar Rp225 miliar itu adalah Jenderal fasis asal Planet Krypton bernama Zod (Michael Shannon). Selain menangkap Clark, Zod juga ingin menduduki bumi untuk kembali membangun ras bangsa Krypton.

Secara keseluruhan film ini banyak menyajikan adegan aksi dengan teknologi canggih. Misalnya pertarungan antara Superman dan Jenderal Zod cs. Kekuatan super yang dimiliki para ras Krypton itu mampu menghancurkan deretan gedung jangkung dan kokoh dengan sekali hentakkan dibumbui dengan ledakan-ledakan dahsyat.

Christopher Nolan tampak mengadopsi teknologi di film yang pernah ia besut, The Dark Knight Rises. Selain disuguhi adegan aksi, film ini juga melumat emosi penonton lewat adengan hubungan emosional antara Jonathan dan Clark.

Sang ayah yang membimbing Kent junior untuk belajar mencari jati dirinya, termasuk menuntut Kent untuk memahami kekuatan yang ia miliki dan belajar menahan emosionalnya.

Akting Amy Adams lewat perannya sebagai Lois Lane, jurnalis Daily Planet menjalani hubungan yang berbeda Superman dibandingkan film terdahulu. Jangan harap ada adegan romantis terbang berkeliling pencakar langit. Dan untuk film Amerika, ciuman yang biasanya kerap disajikan hanya bisa dihitung pakai jari.

Zack Snyder praktis tak mengubah alur cerita di film ini. Man of Steel adalah pengisahan ulang mitologi Superman mulai dari awal kembali seperti film pertamanya Superman I pada 1978.

Yang membedakan adalah detail-detail cerita, seperti proses Superman turun ke bumi dan teknologi yang lebih dahsyat. Namun, ada satu perbedaan mendasar Superman di Man of Steel dibandingkan film-film sebelumnya. Superman tak lagi memakai celana dalam merah andalannya!

Di film ini, sang sutradara seakan ingin menggiring penonton ke sebuah realitas. Maka muncul pertanyaan, bagaimana bila sosok Superman hidup di dunia yang kita tinggali saat ini? Apa yang akan dialaminya? Lalu, apa yang terjadi pada dunia bila pasukan Jenderal Zod hendak menginvansi bumi? Kehancuran seperti apa yang akan mereka ciptakan?

Bagi sebagian pengamat film, menonton Man of Steel adalah ritual suci yang derajatnya sama dengan beribadah alias wajib Tonton. Akan tetapi, alur film yang terlalu lambat dan minimnya aksi yang bisa memompa adrenalin membuat Man of Steel akan menjadi film membosankan. (Rudy Polycarpus)[source]

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . Serli Anggriawan - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger